Sabar
SHABAR DAN IKHLAS UNTUK MENCAPAI
MAGHFIRAH DAN RIDHA ALLAH Swt.
Oleh :
Prof. Dr. dr. H. M. Thaufiq Siddiq Boesoirie, MS., Sp.THT-KL(K)
(Rektor Universitas Islam Bandung)

Hadirin Jama’ah Ied Universitas Islam Bandung dan Lingkungan Tamansari yang dimulyakan Allah.

Ketika takbir dan tahmid berkumandang di angkasa sepanjang malam tadi, bergetar hati kita mengingat kebesaran asma Allah, yang dengan kasih sayang-Nya telah memberikan nikmat karunia-Nya kepada kita sekalian, yaitu kesempatan menjalankan ibadah shaum Ramadhan sebulan penuh. Bergetar pula hati kita ketika kita mengingat, akankah kita berjumpa kembali dengan Ramadhan yang penuh rahmah, barakah, dan maghfirah itu di tahun depan ? Akankah kita masih salang berjumpa di hari raya Iedul Fitri di tahun mendatang ?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hari ini adalah hari yang penuh barakah, hari dzikir yang sarat pujian dan tasbih, hari bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita, namun tidak semua orang dapat merasakan nikmat dan hakikat Iedul Fitri ini, karena hanya orang-orang yang ikhlas shaumnya dan mengisi Ramadhan dengan kegiatan amal ibadah saja yang akan dapat merasakannya. Kebahagiaan yang kita rasakan saat ini adalah karena kita telah berkesempatan untuk secara sadar dan ikhlas meningkatkan hablum-minallah dan hablum-minannas. Kebahagiaan ini juga dapat kita rasakan karena kita melaksanakan shaum dengan penuh kesabaran. Sabar menahan lapar dan dahaga, sabar menjalankan shalat dengan khusyu, sabar menahan diri dari amarah, sabar untuk selalu menjauhi perbuatan dosa dan sabar serta iklas dalam menjalankan ibadah-ibadah lainnya.

Akankah kita masih berkesempatan menemui Ramadhan yang akan datang ? Akankah kita masih menjumpai Iedul Fitri tahun mendatang ? Pertanyaan ini harus tetap ada di dalam hati sanubari kita sekalian. Oleh karena itu, marilah hari ini, hari kemenangan bagi umat Islam, kita jadikan awal perjuangan kita selanjutnya, agar apa yang telah kita capai di bulan Ramadhan ini kita pertahankan, bahkan kita tingkatkan agar kita termasuk ke dalam golongan hamba Allah yang sesuai dengan kehendak Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu golongan orang-orang yang bertaqwa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Puasa pada bulan Ramadhan tidak lain merupakan bagian dari ujian bagi orang-orang yang beriman agar mencapai tingkat ketaqwaan dan keimanan yang tinggi kepada Allah. Hidup di dunia ini sesungguhnya adalah suatu babak kualifikasi, babak penyisihan yang diciptakan Allah untuk menentukan kapling kita di akherat kelak, oleh karena itu Allah tidak akan pernah berhenti memuji dan mencoba manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Di dalam surat Al-Ankabut ayat 2 Allah berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?”

Hadirin yang berbahagia,
Konsep dasar puasa Ramadhan bukanlah hanya menahan nafsu untuk tidak makan tidak minum di siang hari, akan tetapi bagaimana kita dapat mengendalikan hawa nafsu agar segala segi sendi kehidupan kita, hanya kita peruntukan bagi ibadah kepada Allah, sang pencipta alam semesta Dan kunci utama keberhasilan pengendalian hawa nafsu adalah kemampuan kita menghadapinya dengan bersabar sehingga berbagai cobaan yang harus kita hadapi, insya Allah akan dapat kita atasi. Banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang memandu kita untuk mampu bersabar terhadap cobaan-cobaan-Nya antara lain dalam surat Al-Baqarah ayat 153 dan An-Naaziat ayat 40-41. Di dalam surat Al-Baqarah ayat 153 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Sabar adalah dapat menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang mengikuti hawa nafsu yang bertentangan dengan ketentuan Allah meskipun kita mampu ketika kita menerima suatu musibah. Bersabar merupakan kunci utama untuk mengendalikan emosi serta nafsu amarah kita, seperti yang Allah jelaskan dalam surat An-Naaziat ayat 40 – 41: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.”

Al-Kisah, seorang prajurit baru datang dari medan perang, bertemu dengan Ibrahim bin Adham di perbatasan kota, yang merupakan pejabat tertinggi di kawasan tersebut. Karena sudah sekian lama tidak pernah mudik, maka dia lupa jalan  ke kampung halamannya. Sang prajurit tidak mengenal Ibrahim, yang saat itu berpakaian sangat sederhana. Kemudian Sang prajurit bertanya di mana letak perkampungan. Ibrahim menunjuk ke suatu arah, dimana terlihat sebuah pemakaman. Prajurit tadi mengira ia sedang dipermainkan, padahal ke arah makam itulah pinggiran perkampungan tersebut. Maka tanpa pikir panjang, ditamparnya dengan penuh amarah sehingga hidung Ibrahim berdarah.

Seseorang yang kebetulan melihat peristiwa tersebut berteriak pada sang prajurit “Mengapa anda  tampar orang tersebut, apakah kau tidak tahu, bahwa beliau adalah yang mulia pemimpin besar kita Ibrahim bin Adham.” Sang prajurit sangat terkejut dan dengan perasaan takut segera minta maaf kepada Ibrahim. Tanpa diduga Ibrahim menjawab: “Aku memohon kepada Allah agar engkau mendapatkan syurga.” Prajurit ini dengan sangat heran bertanya. “Mengapa demikian, yang mulia ?” Jawab Ibrahim: “Kamu memukul aku, lalu aku menahan amarahku dan bersabar, ini menyebabkan aku akan mendapat pahala besar yang akan menghantarkan aku ke dalam syurga. Karena jasamu itulah lalu akau memohon kepada Allah agar engkau juga masuk kedalam ke syurga”   
  
Disini tampak jelas Ibrahim Bin Adham adalah sosok pemimpin yang menghayati isi surat An-Naaziat ayat 40 – 41 tadi dan mampu mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan bersabar inilah yang seyogianya kita latih pada saat kita berpuasa pada bulan Ramadhan, sehingga pada hari raya Iedul Fitri ini, kita menjadi hamba Allah yang mampu bersabar dan mengendalikan hawa nafsu, sifat hendaknya selalu mewarnai segala sendi kehidupan kita sehari-hari. Dengan sifat sabar inilah maka kita akan menjadi hamba Allah yang rendah hati dan mau mamaafkan kesalahan orang lain.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Di dalam suatu hadits qudsi, Allah berfirman:
Wahai bani Adam, apabila engkau bersabar dan menelaah penyebab engkau mendapat musibah, aku tidak ridha memberikan pahala kepadamu kecuali syurga ( HR. Ibnu Majah)

Hadirin jema’ah Ied Rahimakumullah
Tolok ukur keberhasilan melaksanakan sabar adalah rasa ikhlas, ini dapat dicapai apabila kita menyadari, bahwa sabar adalah perintah Allah sebagaimana juga perintah Allah untuk mendirikan shalat, sesuai firman Allah pada surat Ar-Ra’d ayat 22 yang berbunyi: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik.”
     
Di dalam surat ini terlihat jelas hubungan antara sabar dan shalat di dalam mencari ridha Allah, oleh karena itu tingkatkan kesabaran dengan penuh kesungguhan, sebagaimana halya apabila kita melaksanakan shalat. Rasulullah Saw pernah menyampaikan suatu kisah yang menerangkan tingginya ganjaran bersabar itu sebagai berikut :
Apabila semua makhluk Allah dikumpulkan, maka diantara mereka ada yang menyeru.
 “Siapakah yang telah melakukan keutamaan ?
Maka bangkitlah sekelompok orang, yang dengan cepat mereka terus menuju syurga. Mereka disambut dan ditanya Malaikat,
“Kami lihat kalian berjalan cepat menuju syurga, siapakah gerangan kalian ?
Mereka menjawab, “Kami orang yang senantiasa melakukan keutamaan.” Malaikat itu bertanya pula , “Keutamaan apa yang telah kalian lakukan ?
Maka jawab mereka pula, “Kami bersabar diri bila dizalimi, dan bersikap bijaksana bila disakiti.”
Maka jawab mereka pula, Silahkan masuk ke dalam syurga. Sunguh bahagia para pelaku kebajikan itu.”

Apabila selama bulan puasa, umat Islam di Indonesia melatih diri untuk bersabar, akan terbentuk jutaan pribadi muslim sejati yang memiliki kemampuan bersabar yang tinggi, yang santun dan mampu menghormati hak orang lain, yang dengan kesabarannya akan mempu berfikir jernih dalam memecahkan masalah maupun mengambil suatu keputusan. Masyarakat muslim yang demikian akan mampu membawa negara ini keluar dari kesulitan, akan terbentuk suatu negara yang makmur, dihormati bangsa-bangsa lain, serta selalu mendapatkan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Oleh karena itu, marilah kita terapkan sifat sabar hasil puasa Ramadhan ini ke dalam kehidupan keseharian kita.

Dengan sabar dan meningkatkan rasa cinta kasih kita kepada Allah, kepada Rasulullah serta kepada sesama hamba Allah dan dengan pedoman hanya kepada Al-Quran dan sunnah Rasul, kita umat muslim bersatu padu dalam menghadapi serta mengatasi segala kesulitan kehidupan yang kita alami saat ini, yang tiada lain adalah cobaan dari Allah Swt. Dengan demikian kita akan mampu meraih makna puasa Ramadhan yang baru kita laksanakan, untuk kita jadikan dasar ibadah kita pada hari-hari mendatang. Dengan demikian pula, maka harapan kita adalah puasa kita kali ini akan memiliki bobot yang lebih dari puasa-puasa kita sebelumnya. Dengan sifat sabar yang kita miliki ini, juga akan membawa kita kepada kedekatan hati kepada Allah sang Maha Pencipta dan kedekatan hati kepada sesama hamba Allah untuk bersama-sama beribadah kepada-Nya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Hadirin sidang Ied yang berbahagia, Shaum merupakan suatu proses penataan diri yang berdampak pada perbuatan sikap, sifat dan perilaku sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.

“Sekiranya shaum, shaumkanlah pendengaran, penglihatan, dan lidahmu dari dusta dan dosa, dan hentikanlah kebiasaanmu meyakiti perasaanmu. Jadikanlah hari-hari shaummu sebagai hari penuh rahmat dan ketenangan. Dan janganlah menjadikan hari-hari shaummu sama saja dengan hari-hari berbuka (tidak shaum)

Apabila kita telah melaksanakan shaum Ramadhan itu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw. maka Insya Allah karunia Allah akan datang kepada kita, sebagaimana dilukiskan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Tabrani:
“Pada hari Iedul Fitri, para Malaikat berdiri di gerbang jalan, lalu berseru, “Bergegaslah hai kaum Muslimin, menuju kepada Tuhan yang Maha Mulia, yang melimpahkan kebajikan lalu memberikan imbalan yang banyak. Kalian telah diperintahkan bangun malam, dan kalian telah lakukan. Kalian telah diperintah shaum pada siang hari, dan kalian laksanakan dan taati perintah Tuhan kalian. Terimalah  pemberian Nya.”

Setelah shalat ditunaikan, berserulah. “Ketahuilah bahwa Tuhan kalian telah mengampuni kalian. Bersegeralah kalian pulang ke rumah kalian. Inilah hari karunia. Hari ini di langit disebut hari karunia. Subhanallah ! Maka di hari Iedul Fitri ini, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapat ampunan dan karunia tersebut Amiiiin. …………

Hadiri yang mulia
Di akhir Khutbah ini marilah kita menengadahkan hari kita yang paling dalam untuk sama-sama berdo’a serta memohon kepada sang Maha Pencipta dengan satu harapan, agar do’a kita di dengar dan dikabulkan Allah Swt.

Alhamdulillahirrabil ‘alamin, hamdan yu afi ni’amahu wayukafi umazidah, yaa rabbana lakalhamdu, kamaa yan baghii wajhika wa ‘adziimi shulthaanik.
Yaa Allah, Tuhan Yang Maha Besar,
Pagi ini Engkau saksikan hamba-Mu bersatu memuji keagungan-Mu datang bersimpuh di hadapan-Mu, untuk berserah diri kepada-Mu.

Ya Mujibas Sailin
Di hari yang suci ini, semoga Engkau berkenan menjadikan kami hamba-hmab-Mu kembali kepada Fitrah dan memperoleh kemenangan dari Shaum kami. Terimalah seluruh ibadah kami.

Ya Ghafur Ya Rahim,
Ampunilah dan sayangilah kami beserta kedua orang tua kami
 
Ya Fatah
Bukakanlah pintu rahmat-Mu bagi kami, sinarilah hati-hati kami dengan nur hidayah-Mu

Ya Allah Ya ‘Alim
Cerdaskanlah kami dengan karunia-Mu, hiasilah kami dengan ketenangan jiwa, muliakanlah kami dengan taqwa, dan lembutkanlah hati kami dengan sifat sabar dan pemaaf.

Ya Wahhab
Anugerahkan kepada kami kemampuan untuk saling menghormati dan saling menyayangi di antara kami.

Ya Salam
Selamatkanlah kami dari segala bentuk fitnah dan cobaan yang dapat menyesatkan kehidupan kami di dunia maupun di akherat.

Ya Syakur,
Jadikanlah kami golongan orang yang dapat menerima qada dan qadar-Mu, pandai bersyukur atas segala nikmat-Mu.

Ya Razaq,
Engkau telah kami berikan Iman dan Islam. Engkau telah menciptakan kami dalam bentuk makhluk-Mu yang paling sempurna. Engkau telah memberi kamu ruh, jasad, akal, kecerdasan, keinginan, panca indera, dan harapan. Engkau telah memberikan segala-galanya kepada kami Ya Allah.

Ya Rahman Ya Rahim
Janganlah Engkau hentikan limpahkan kasih sayang-Mu kepada kami, sehingga kami tetap ada dalam bimbingan dan ridha-Mu pertemukanlah kami dengan Ramadhan yang akan datang.

Ya Mujibas Sailin
Kabulkanlah do’a kami

Rabbana atina fiddunya hasanah wafi akhirat hasanah waqina azaabannar
Wa adhilna jannata ma’al abrar, ya aziz, ya ghaffar, ya rabbal ‘alamin
Subhana rabbika rabi izati ‘amma yaa shifun wasalaun ‘alaa mursaliin
Alhamdulillahirabbil ‘alaimiin.   

Catatan :
Disampaikan dalam khutbah Iedul Fitri di Unisba
Tanggal, 01 September 2011 M/01 Syawal 1432 H
Filter     Display # 
# Article Title
1 Shabar dan Ikhlas
 
RocketTheme Joomla Templates