Berkorban

BERKORBAN !!!
JIKA TIDAK INGIN MENJADI KORBAN

Oleh : 
Ust. Hikmat Taofiq, S.Ag.
(Kasie. Lembaga Studi Islam Unisba)

Allahu Akbar 9x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah, untuk kesekian kalinya kita hadapkan wajah kita dengan tulus ikhlas kepada Allah. Kita agungkan, muliakan, dan kita besarkan Asma Allah yang memelihara langit dan bumi serta segala isinya. Allah yang memberi kita nikmat hidayah, iman dan Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan, serta nikmat kehidupan di tengah alam dan bumi Allah ini. Pagi ini kita kembali berkumpul untuk membangun citra dan kebersamaan kita selaku Umat Islam, hamba-hamba Allah yang lemah dan senantiasa mengharapkan rahmat dan keberkahan-Nya. Tiada daya dan upaya, tiada kekuatan selain dengan Allah.Pada hari ini jutaan manusia, dengan kesadaran keagamaan yang tulus, kembali mengenang peristiwa keagamaan yang sangat bernilai. Mereka mencoba merefleksikan maknanya pada berbagai bentuk ritual yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, yang menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Rabb Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”


Keaneka-ragaman suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit ternyata tak lagi membedakan mereka, satu sama lain, kerena sesungguhnya mereka telah dipersatukan dengan kesatuan aqidah dan hukum yang diturunkan oleh Allah, yang sedang mereka praktikkan dalam manasik haji mereka.

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada hari ini pula ribuan bahkan jutaan ekor hewan korban akan disembelih sebagai wujud ketaatan pada perintah Allah SWT. Perintah untuk mengorbankan harta yang paling kita cintai sekalipun, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS. dengan begitu indah, saat beliau menunaikan perintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail ‘AS. Sebuah bentuk pengorbanan yang sangat luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya sekian puluh tahun, yang diharapkan kelak akan menjadi generasi penerus keturunan dan perjuangannya, putra yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan, dan menawan, justeru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Peristiwa agung ini telah menjadi sejarah besar dalam kehidupan umat manusia. Dan Allah mengabadikannya di dalam al-Quran surat Ash-Shaffat, ketika Ibrahim pada usianya yang sudah lanjut, beliau memohon untuk dikaruniakan seorang anak yang shaleh

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
Pada saat itu Allah SWT mengabulkan permohonan Ibrahim AS dengan memberitahukan kepada Ibrahim bahwa ia akan diberikan seorang anak yang kelak akan meneruskan keturunan dan perjuangannya dengan firman-Nya:

Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. Akan tetapi maasiral muslimin apa yang terjadi kemudian

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Namun apa yang dikatakan Ismail AS ketika mendengar perkataan ayahnya, ia malah mengatakan :

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim ‘AS. Juga pengorbanan luar biasa dari diri Nabi Ismail ‘AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Pengorbanan tersebut, sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai. (Q.S. Ali Imran [03]: 92).

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam Al-Baidhawi berkata, "Cinta adalah keinginan untuk taat", sementara, al-Zujaj berkata, "Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya." Lebih lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin dapat diwujudkan tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan.

Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, merupakan tauladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum Muslim ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka harus siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekadar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman:

Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah [9]: 24).

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita harus siap melakukannya. Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan, ampunan, pertolongan, kemenangan, dan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
 
Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin… (QS. Al-Munaafiquun [63]: 8)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Jika kita nilai sejujurnya keadaan umat Islam saat ini, maka keadaannya amatlah jauh dari harapan. Umat yang semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya-raya ini, faktanya justeru hidup sengsara dalam kemiskinan dan kemelaratan. Kesenjangan sosial kita dijumpai di berbagai tempat. Angka pengangguran terus meningkat. Beban hutang luar negeri makin menjerat, dan beban hidup pun terus meningkat. Inilah sekilas gambaran keadaan umat di dalam negeri. Adapun keadaan umat Islam di luar negeri, keadaannya tidak jauh berbeda. Di berbagai negeri, umat Islam berada dalam keadaan tertindas dan terjajah. Lihatlah apa yang terjadi atas saudara kita yang ada di Palestin, Iraq, Afghanistan, dan sebagainya. Semuanya ini terjadi kerana umat Islam dalam keadaan yang sangat lemah. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh negara-negara Imperialis untuk menjajah kaum Muslim, baik secara langsung maupun tidak.

Kalau kita telusuri penyebab kelemahan umat Islam itu sendiri pada dasarnya adalah karena lemahnya pemahaman mereka terhadap al-Islam. Lemahnya pemahaman ini merupakan kesan daripada lemahnya praktik penerapan Islam dalam kehidupan mereka. Ini dapat dilihat dari fakta kehidupan kaum Muslim saat ini. Mereka beribadah haji dengan aturan Islam, solat dengan aturan Islam, menikah dengan aturan Islam, tetapi mereka tidak mengelola sumber hasil buminya dengan aturan Islam, tidak mengatur ekonominya dengan aturan Islam, tidak mengatur sistem pertahanan dan keamanannya dengan aturan Islam, tidak menjalankan politik dalam dan luar negerinya dengan aturan Islam. Inilah yang menjadi penyebab lemahnya umat Islam. Maka jika umat Islam lemah, mereka hanya akan menjadi korban. Korban ketamakan dan kerakusan negara-negara Imperialis yang selalu ingin mencengkamkan hegemoninya atas negeri-negeri Muslim.

Oleh karena itu bagaimana caranya agar hal ini tidak terjadi, tentu umat Islam harus kuat. Jika ingin kuat, umat Islam harus hidup dengan Islam secara kaffah. Artinya, perlu menjadikan Islam sebagai acuan dalam nengatur seluruh aspek kehidupan, baik dalam urusan peribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara. Inilah kunci kejayaan umat dalam meraih kemuliaan. Kemuliaan di sisi Allah khususnya, dan di mata umat serta bangsa-bangsa lain pada umumnya.

Untuk meraih kemuliaan itu, tentu umat perlu berjuang. Untuk dapat berjuang, umat perlu siap berkorban. Sebab, tak pernah ada kemuliaan tanpa perjuangan, dan tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan. Jadi, sesungguhnya hanya ada dua pilihan bagi kita. Apakah kita mau berkorban untuk meraih kemuliaan, atau justeru akan menjadi korban, akibat kelemahan kita, karena kita tidak mau berkorban.

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ingatlah, bahawasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan dan di negeri kalian ini." (HR. Muslim dari Jâbir).
Sabda Rasulullah SAW ini menjelaskan bahwa darah dan harta, termasuk kekayaan alam negeri-negeri Muslim, sesungguhnya merupakan kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT. Kesemuanya wajib dijaga dan dipelihara untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Tidak dibenarkan pihak manapun untuk merampas kekayaan tersebut dan menodai kemuliaannya. Jika hal ini terjadi, maka umat wajib mempertahankannya, meskipun perlu mengorbankan harta dan jiwa mereka sekalipun. Rasulullah SAW. bersabda:

Siapa saja yang dibunuh karena mempertahankan hartanya, maka dia (terbunuh) sebagai syahid. (HR. al-Bukhâri dari 'Abdullâh bin 'Amr).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Demikianlah, tanpa pengorbanan, kemuliaan takkan pernah dapat diraih. Karena itu, jika umat ini benar-benar cinta kepada Allah dan mau mengambil tauladan dari Nabi Ibrahim dan Ismail AS, maka mereka harus siap dan rela berkorban dalam menempuh perjuangan.

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Akhirnya, kita berharap semoga para jama'ah haji berhasil meraih haji mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan seluruh kaum Muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SWT, terutama saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Mudah-mudahan mereka diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi semua musibah ini. Selanjutnya, marilah kita tundukkan kepala kita dengan segala kerendahan hati, sambil menengadahkan kedua tangan kita, untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT, Dzat Yang Mahakuasa, dan Mahaperkasa:

- Ya Allah ya rabb, puji syukur kami panjatkan kehadirat-Mu, atas segala nikmat dan rahmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Nikmat dan rahmat yang begitu banyak, sehingga  kami tidak mampu menghitung berapa jumlah dan harga nikmat-Mu itu.

- Ya Rabb, dari usia dan umur yang telah Engkau berikan, begitu banyak dosa yang telah hamba-Mu lakukan, begitu besar kesalahan yang telah hamba perbuat, begitu jauh hamba bergelimang noda dan dosa, sehingga hamba sering melupakan-Mu ya Rabb. Begitu sering hamba melalaikan perintah-Mu ya Rabb, tidak mendengarkan panggilan-Mu Ya Rabb, begitu asyik hamba mengarungi kehidupan duniawi, begitu jauh hamba menyimpang dari jalan-Mu Ya Rabb. Hari ini, hamba-Mu bersimpuh menghadap ke haribaan-Mu tuk memohon ampunan-Mu ya Rabb,  atas segala kelalaian dan kesalahan yang telah hamba lakukan selama ini. Ya Rabb, Tuhan yang Maha Pengasih selamatkanlah hamba dari kepedihan azab-Mu.

- Ya Rabbana, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka telah memelihara dan menyayangi kami sejak kami berada di pangkuannya.

- Ya Rabbana, hamba-Mu benar-benar telah menganiaya diri sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan tidak memberi rahmat kepada hamba, pastilah hamba termasuk orang-orang yang merugi.

- Ya Allah ya Tuhan kami, tampakkanlah yang hak itu benar-benar hak dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk dapat melaksanakannya.

- Dan tampakkanlah yang batil itu benar-benar batil serta berikan pula kemampuan kepada kami untuk dapat menghindarinya.

- Ya Allah ya Tuhan kami, sinarilah hati kami dengan cahaya petunjukmu, sebagaimana Engkau telah menyinari bumi dengan cahaya mentarimu selama-lamanya.

- Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

- Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
 
- Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).

- Ya Allah, tidak ada kemudahan, kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sebesar apapun kesulitan akan menjadi mudah, apabila Engkau menghendakinya.

- Ya Rabb, jadikanlah negeri Indonesia ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada-Mu dan hari kemudian.

- Ya Allah jadikanlah pertemuan kami ini, pertemuan yang penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang-Mu. Dan jadikanlah perpisahan di antara kami, sebuah perpisahan yang senantiasa terlindungi

Catatan :
Disampaikan pada Khutbah Iedul Adha di Desa Ciburial
Pada Tanggal. 10 Dzulhizah 1431 H/2010
Filter     Display # 
# Article Title
1 Berkorban Jika Tidak Ingin Menajdi Korban
 
RocketTheme Joomla Templates