Tujuan Pendidikan
TAFSIR AL-QURAN

MELAHIRKAN TAFSIR YANG BERCORAK KILMUAN BERNUASA SOSIO KULTURAL

 

Merajut hari esok yang lebih baik melalui anyaman ayat-ayat Allah merupakan pangkal tolak berlabuhnya penulisan tafsir Al-Quran yang digarap oleh LSI (Lembaga Studi Islam) Unisba. Secercah harapan membersit dari karya ini untuk memancarkan cahaya terindah yang bisa mengurai makna kehidupan penuh rahmat.   

Turunnya Al-Quran tidak untuk mengucilkan diri dari kehidupan, kesulitan-kesulitan dan gejolak-gejolaknya. Tidak pula untuk menenggelamkan ilmu pengetahuan beserta para ahlinya. Justru al-Quran diturunkan sebagai hidayah, yaitu: tuntunan, petunjuk dan pembimbing ke jalan kebenaran, serta merespons berbagai persoalan yang dihadapi ummat manusia. Semangat pesan al-Quran yang diawali dengan kalimat "Iqra'"(Bacalah)  tersimpan makna perintah untuk dimengerti dan dipahami ajaran dan bukti-bukti kebenarannya. Di sini akal dan nurani manusia dituntun untuk berperan aktif dalam memahami dan merenungi kebenaran ajarannya.

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa para ilmuwan yang mengkaji ayat-ayat kauniyyah yang terdapat di dalam Al-Quran selanjutnya melahirkan beberapa penemuan yang mengagumkan tentang rahasia alam, sehingga lahirlah ilmuwan-ilmuwan besar di dunia Islam mulai abad ke 8, yaitu delapan abad sebelum Barat mengalami renaissance.

Para ulama dalam perjalanan sejarahnya telah menekuni dan berijtihad untuk memahami al-Quran serta mendalami makna ayat-ayatnya melalui penafsiran. Pada masa-masa awal, penafsiran al-Quran yang berkembang lebih bercorak tahdzîb, (pendidikan akhlak) targhîb (motivasi beramal)  dan tarhîb (peringatan) tanpa mendalami lebih jauh makna-makna lain yang bersifat saintifik. Warna tersebut sangat berkaitan dengan tuntutan dan tantangan peradaban yang berkembang pada saat itu.

Upaya untuk menjadikan al-Quran agar terpahami dengan baik pesan dan tuntunannya adalah dengan menyusun tafsirnya. Tafsir yang disusun oleh Unisba merupakan usaha untuk memadukan antara pola penafsiran standard, menggunakan kaidah-kaidah penafsiran yang dipersyaratkan oleh para ulama tafsir, kemudian dipadukan dengan kontribusi keilmuan yang dibangun dari multi disiplin ilmu yang dituangkan pada catatan kaki. Hal ini dimaksudkan agar kajian tafsir yang bersifat Qurâniyyah bertautan dengan kajian yang bersifat Kauniyyah. Oleh karena itu, diharapkan dari tafsir ini akan muncul warna baru yang bermanfaat bagi pengembangan pemahaman ayat-ayat Al-Quran yang bersifat kontekstual.

Tafsir Al-Quran ini diusahakan supaya dapat menghasilkan Tafsir Al-Quran yang komprehensif dan mudah difahami oleh masyarakat secara umum. Selanjutnya, diharapkan dapat memperkaya khazanah tafsir-tafsir yang sudah ada dan membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat saat ini.

Berkat perhatian dan komitmen para ahli dan tokoh Islam yang begitu besar terhadap wahyu Ilahi, maka Tafsir Unisba pun tidak luput dari telaahan mereka. Walhasil, mereka mengemukakan endrosment (pengesahan) dan penghargaaan sebagai berikut: 

 

Prof. Dr. H. Miftah Faridl (Ketua MUI Kota Bandung/Ketua Umum Yayasan Unisba)

Para Penyusun Tafsir Unisba telah berusaha mengemasnya dalam suatu bahasa yang komprehensif, mendalam sesuai dengan keragaman latar belakang keilmuannya. Baik dan pasti bermanfaat untuk dibaca.

 

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar (Wakil Menteri Agama RI)

Unisba (Universitas Islam Bandung) telah berusaha untuk memberikan warna baru dalam penafsiran al-Quran, yaitu mengintegrasikan kajian multi disiplin ilmu sekalipun masih dalam batas hasyiyah (catatan kaki). Sekecil apapun kontribusi multi disiplin ilmu akan membantu pendalaman dan perluasan makna pesan-pesan al-Quran. Selain itu, sistematika penulisan dan bahasa yang digunakan mudah dimengerti. Merupakan karya monumental yang sangat penting kehadirannya di tengah-tengah masyarakat Islam. Suatu khazanah penafsiran yang segar, perlu dibaca orang-orang beriman.  

 

KH. Hasyim Muzadi (Mantan Ketua PBNU)

Universitas Islam Bandung (Unisba) telah melakukan upaya yang sangat mulia, menyusun Tafsir al-Quran dalam rangka membantu Ummat memahami pesan-pesan Wahyu. Terdapat warna khusus yang menjadi karakter dari Tafsir Unisba ini. Sifat khusus yang dimiliki Tafsir Unisba adalah: melibatkan kajian multi disiplin ilmu yang relevans, meskipun baru tertuang dalam catatan kaki. Dilengkapi dengan keterangan asbab al-nuzul dalam kajian latar dan konteks. Setiap kelompok ayatnya dibingkai dengan tema-tema tertentu, disertai dengan implikasi ayat dalam kehidupan sehari-hari yang tertuang pada bagian pesan dan kesan. Bahasa yang digunakan mudah dibaca dan dimengerti. Alur kajiannya sistematis, mendalam dan bervariasi. Sangat penting untuk dibaca oleh siapa pun.

                                                                                             

Prof. Dr H. Amin Abdullah (Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga)

Sekalipun terdapat warna yang khusus, akan tetapi Tafsir Unisba tidak meninggalkan kaedah penulisan tafsir standar yang dipersyarakatkan oleh para Ulama. Justru kehadirannya, sekaligus menjadi salah satu khazanah tafsir yang memperkaya telaah wahyu di tanah air. Format dan sistematika penulisannya teratur, bahasanya mudah dimengerti, isinya luas dan mendalam, tidak ketinggalan setiap kajian ayat disertai uraian tentang asbab al-nuzul (sebab turun ayat), tertuang pada kajian latar dan konteks.

 

Prof. Dr. H. Afif Muhammad, M.Ag.

(Mantan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati)

Bahasa yang digunakan sederhana, mengalir begitu mudah dipahami. Cara pemaparannya memudahkan pembaca untuk menangkap isi pesan dari maksud yang terkandung di dalam pesan-pesan ayat. Pencantuman indeks yang terdapat di belakang Tafsir, membantu pembaca yang ingin menelusuri kunci-kunci kata atau nama tertentu di dalamnya. Suatu penulisan tafsir yang memperhatikan kaedah penulisan teks ilmiah dengan tanpa meninggalkan standard baku yang menjadi acuan para ulama di dalam menuliskan tafsir al-Quran.

 

Prof. Dr. H.Muhammad Chirzin, M.Ag.

(Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga)

Tafsir Al-Quran Unisba, menggunakan rujukan utama Tafsir Al-Munir, karya terkemuka Wahbah Al-Zuhaili, didukung rujukan puluhan kitab tafsir terkemuka. Penafsiran menukik pada inti ayat, dilengkapi dengan catata-catatan sumber secara ekstensif, sehingga memudahkan pembaca melakukan penelusuran informasi lebih lanjut pada sumber-sumber rujukan. Sesuai dengan namanya, bercorak akademik (ilmiah). Sangat cocok untuk kalangan mahasiswa, akademisi, pemikir Islam dan masyarakat luas.

 

Dr. H. Cecep Alba MA (Rektor IAILM Suryalaya

Keistimewaan Tafsir Unisba tertelak pada pendekatan terpadu antara konteks dan latar serta ijtihadi dan naqli (Al-Quran dan Hadits). Penafsirannya diungkap dengan bahasa yang lugas, padat, dan mudah dipahami, sehingga tidak membuat lelah pembaca. Rujukan utamanya seimbang antara kitab kuning (tafsir-tafsir standar) dan kitab putih (buku-buku Ilmiah).

 
Tujuh Perkara Mengalir

 

TUJUH PERKARA YANG SELALU
 MENGALIR PAHALANYA
Oleh : H. Agus Halimi, Drs., M.Ag.


Preview“Ada tujuh hal yang mengalir pahalanya bagi seorang hamba sampai ke alam kubur antara lain  : 1. Seseorang yang mengajarkan ilmunya, 2. membuat sungai, 3. Membuat sumur 4. Menanam Pepohonan, 5. Membangun Masjid, 6. Mewariskan mushaf Al-Qur’an 7.  Memiliki anak yang shaleh yang selalu mendo’akan dan memohon ampunan untuk kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal dunia”. 

 
Makna Hijrah

 

SUBSTANSI HIJRAH DALAM
KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM
Oleh: H. Dedih Surana, Drs., M.Ag.

Pengantar
Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dri dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan.

Umat Islam wajib melakukan hijrah apabila diri an keluarganya terancam dalam mempertahankan akidah dan syari’ah Islam. Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: Qs. Al-Baqarah 2:218).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni;mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74)
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Qs. At-Taubah, 9:20)
 
Pada ayat-ayat di atas, terdapat esensi kandungan:
1. Bahwa hijrah harus dilakuakn atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengarah rahamt dan
   keridhaan Allah.
2. Bahwa  orang-oerang  beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan
   untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh 
   pengampunan Allah, memperoleh  keebrkahan rizki (ni’mat) yang mulai, dan kemenangan di sisi Allah.
3. Bahwa hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita  miliki, termasuk  harta 
   benda, bahkan jiwa.
4. Ketiga   ayat  tersebut  menyebut  tiga  prinsip  hidup, yaitu  iman,  hijrah dan jihad. Iman bermakna
   keyakinan, hijtah bermakna perubahan dan jihad bermakna perjuangan dalam menegakkan risalah Allah.

Makna Hijrah
Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya ahrus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tepat yang tidak kondisuf untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan ahun Hijriyah.

Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khlifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai  taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah aw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah.

Secara garis besar hijrah kita bedkan menajdi dua macam yaitu:     
1. Hijrah Makaniyah : Yaitu meinggalkan suatu tempat. Bebebrapa jenis hijrah maknawiyah, yaitu:
a. Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Habasyiyah.
b. Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah.
c. Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal
    yang diharamkan.
d. Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menhindari penyakit menuju negeri
    yang aman.
e. Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda.
f. Hijrah dari suatu tempat karena menghindari tekanan fisik
   Seperti hijrahnya Ibrahim as dan Musa as, ketika Beliau khawatir akan gangguan kaumnya.
   Seperti yang tecantum dalam al-Qur’an:
  Berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan).
  Tuhanku, Sesungguhnya Dialah yang Maha erkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al-Ankabuit, 29:26).

Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatri, dia berdo’a “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu (Qs. Al-Qashah, 2:21). 
 
2. Hijrah Maknawiyah
Secara  maknaiyah hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a. Hijrah I’tiqadiyah
Yaitu hijrah keyakinan. Iman bersifat pluktuatif, kadang menguat menuju puncak keyakinan mu’min sejati, kadang pula melemah mendekati kekufuran Iman pula kadang hadir dengan kemurniannya, tetapi kadang pula  bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan. Kita harus segera melakuakn hijrah keyakinan bila berada di tepi jurang kekufuran dan kemusyrikan keyakinan. Dalam konteks psikologi biasa disebut dengan konversi keyakinan agama. Sebagai contoh Umar Ibnu Khattab dalam Islam dan Santo Paulus dalam Kristen.

b. Hijrah Fikriyah
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara oline kitya akses.

Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia gendeang perang telah dipukul dalam medan yang namanya “Ghoswul Fikr” (baca: Perang pemikiran). Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana dari senjata-senjata perengut nyawa. Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, dan sosialisasi bahkan momunisasi telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terditeksi oleh kacamata pemikiran Islam. Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Mari kita kembali mengkaji pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, melalui para sahabat tabi’in, tabi’it, tabi’in dan para generasi pengikut shalaf.

“Rasulullah Saw bersabda: Umatku niscaya akan mengikuti sunan (budaya, pemikiran, tradisi, gaya hidup) orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, sehingga mereka masuk ke lubang biawak pasti umatku mengikuti mereka. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah apaakh mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani ? Rasulullah menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka.

c. Hijrah Syu’uriyyah
Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semau yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kuarng Islami Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola semua pihak luput dari pengaruh nilai-nilai diluar Islam. Kalau kita perhatikan, hiniran dan musik seorang muslim takjauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hutra-hura dan senang-senang belaka.

Mode pakain juga tak kalah pentingnya untuk kita hiraukan Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian ? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Konon, umat Islam dimanjakan oleh budaya barat dengan 3 f, food, fan, fashan.

d. Hijrah Sulukiyyah 
Suluk berarti tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juag akhlaq. Dalam perjalanannya ahklaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulai (akhlaqul karimah) menuju kepribadian tercela akhlaqul sayyi’ah). Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak moral dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, penghinan dan penganiyaan seolah-olah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi,, prostitusi dan manipulasi hampir bisa ditemui di mana-mana. Dalam moment hijrah ini, sangat tepat jika kita mengkoreksi akhlaq dan kepribadian kita untuk kemudian menghijrahkan akhlaq yang mulia.

Refleksi    
Dengan telah berakhirnya tahun 1431 H dan tibanya tahun 1433 H, serta sebentar lagi akan segera pergantian tahun masehi dari 2011, suatu hal yang pasti bahwa usia kita bertambah dan jatah usia kita semakin berkurang. Sudah selayaknya kita menghisab drii sebelum dihisab oleh Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Hisablah (lakukan perhitungan atas) dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lakukanlah kalkulasi amal baik dan amal burk sebelum Allah memberikan kalkulasi amal atas dirimu.

Apakah kehidupan kita banyak diisi dengan beribadah atau bermaksiat ? Apakah kita banyak mematuhi ajaran Allah ataukah banyak melanggar  atauran Allah ? Apakah kita ini termasuk orang yang menunaikan shalat fardlu atau malah lalai dalam menunaikan shalat fardlu ? Apakah diri kita ini termasuk golongan orang – orang ynag celaka mendapat siksa neraka ? Rasulullah bersabda :

Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir mengatakan:
“Tanda-tanda orang yang akan mendapatkan kecelakaan di akherat kelak ada empat perkara:
1. Terlalu mudah melupakan dosa yang diperbuatnya, padahal dosa itu tercatat di sisi Allah.
    Orang yang mudah melupakan dosa ia akan malas bertobat dan mudah mengerjakan dosa kembali.
2. Selalu mengingat (dan membanggakan) atas jasanya dan amal shalihnya, padahal ia sendiri tidak
   yakin apakah amal tersebut diterima Allah atau tidak. Orang selalu mengingat jasanya yag sudah lewat
  ia akan takabur dan malas untuk berbuat kebajikan kembali di ahri-hari berikutnya.
3. Selalu melihat ke atas dalam urusan dunia. Artinya ia mengagumi sukses yang dialami orang lain dan
   selalu berkeinginan untuk mengejar sukses orang tersebut. Sehingga hidupnya selalu merasa kekurangan.
4. Selalu melihat ke bawah dalam urusan agama. Akibat ia akan merasa puas dengan amalnya selama
   ini, sebab ia hanya membandingkan amalnya dengan amal orang lain di bawah dia. 
 
Shabar dan Ikhlas
SHABAR DAN IKHLAS UNTUK MENCAPAI
MAGHFIRAH DAN RIDHA ALLAH
Oleh :
Prof. Dr. dr. H. M. Thaufiq Siddiq Boesoirie, MS., Sp.THT-KL(K)
(Rektor Universitas Islam Bandung)

Hadirin Jama’ah Ied Universitas Islam Bandung dan Lingkungan Tamansari yang dimulyakan Allah.

Ketika takbir dan tahmid berkumandang di angkasa sepanjang malam tadi, bergetar hati kita mengingat kebesaran asma Allah, yang dengan kasih sayang-Nya telah memberikan nikmat karunia-Nya kepada kita sekalian, yaitu kesempatan menjalankan ibadah shaum Ramadhan sebulan penuh. Bergetar pula hati kita ketika kita mengingat, akankah kita berjumpa kembali dengan Ramadhan yang penuh rahmah, barakah, dan maghfirah itu di tahun depan ? Akankah kita masih salang berjumpa di hari raya Iedul Fitri di tahun mendatang ?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hari ini adalah hari yang penuh barakah, hari dzikir yang sarat pujian dan tasbih, hari bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita, namun tidak semua orang dapat merasakan nikmat dan hakikat Iedul Fitri ini, karena hanya orang-orang yang ikhlas shaumnya dan mengisi Ramadhan dengan kegiatan amal ibadah saja yang akan dapat merasakannya. Kebahagiaan yang kita rasakan saat ini adalah karena kita telah berkesempatan untuk secara sadar dan ikhlas meningkatkan hablum-minallah dan hablum-minannas. Kebahagiaan ini juga dapat kita rasakan karena kita melaksanakan shaum dengan penuh kesabaran. Sabar menahan lapar dan dahaga, sabar menjalankan shalat dengan khusyu, sabar menahan diri dari amarah, sabar untuk selalu menjauhi perbuatan dosa dan sabar serta iklas dalam menjalankan ibadah-ibadah lainnya.

 
Keutamaan Sifat Tawadhu

 

KEUTAMAAN SIFAT TAWADHU’
Oleh: Agus Halimi *)


"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS Al-Furqan,25: 63)

Manusia itu terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman ruhani (agama), baik aqidah, ibadah, maupun akhlak. Padahal, manusia disebut insan karena ruhaninya, bukan jasmani semata.

Ada faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran dan bersikap takabur/sombong kepada manusia lain:

Pertama, pengaruh harta kekayaan, tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankan oleh Qarun.
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)

Kedua, pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya Firaun.

Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37).  (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta".. (QS Al-Mu’min:36-37)

Ketiga, pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.

Firaun (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi".(QS al-Nazi’at: 24)

Itulah gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan ajaran agama yang dibawa Nabi Musa dan Harun.

Jika kita mencermati penyakit bangsa kita, menurut Hasil Seminar Lemhanas ke-17, maka kita dapat menjumpai salah satunya, adalah bangsa Indonesia cenderung bersikap fragmentasi. Artinya, penghargaan kepada seseorang dilihat dari jabatan, ilmu, atau kekayaannya. Ini jelas-jelas merupakan penyakit yang mengkhawatitrkan dan harus dicarikan obat penawarnya, yaitu menumbuh-suburkan sikap/sifat tawadhu’.

Apa pengertian tawadhu’ itu ?

Di dalam referensi keagamaan, Al-Fudhail ditanya orang tentang arti Tawadhu’i : ”Anda tunduk kepada kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan anak kecil atau yang tidak pandai.”

Ibnu Mubarak mengatakan, arti tawadhu’ yang paling tinggi adalah: ”menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang status ekonominya lebih rendah, sehingga tiada lagi kesenjangan antara keduanya. Sebaliknya, menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang lebih tinggi status ekonominya, sehingga tiada kesenjangan/perbedaan posisi antara keduanya.”:

Kebalikan dari tawadhu’ adalah takabbur yang didefinisikan ulama, ”menolak kebenaran (al-haq) dan memandang rendah orang lain.”
Jadi, orang yang sombong adalah orang yang memandang orang lain lebih buruk/ rendah daripada dirinya.


Ringkasnya, orang yang tawadhu’ adalah orang besar/terhormat yang mampu menempatkan diri  di hadapan orang yang lebih rendah kedudukan atau status ekonominya, sehingga tidak ada jurang pemisah di antara keduanya.

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah membandingkan antara keduanya sebagai berikut:

”Barang siapa merendah karena Allah satu derajat, maka Allah akan mengangkatnya satu derajat, sehingga menjadikan dirinya  di Iliyyin. Barang siapa menyombongkan diri kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya hingga direndahkan serendah-rendahnya.”(HR Ibn Majah, Abu Ya’la, Ibn Hibban, dan Hakim).

Keutamaan sikap Tawadhu’ ?
Pada awalnya sifat tawadhu’ ini ditujukan kepada orang yang terhormat, berkedudukan tinggi, dan orang besar, yang dikhawatirkan akan timbul kesombongan; dengan diingatkan oleh seorang bijak:


Rendah hatilah kamu, niscaya kamu seperti bintang yang tampak di permukaan air (berada di bawah), padahal sebenarnya dia berada di tempat yang tinggi/terhormat.

Kalau kita renungkan bahwa orang yang tawadhu’ itu tidak akan rugi dan tidak akan kehilangan apa-apa (nothing to loose). Namun, justru sikap itu akan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya dalam pandangan Allah, di samping  terhormat./tinggi di depan manusia.
 
Abu Nu’aim berkata:
 Barangsiapa yang rendah hati karena Allah, maka Dia akan mengangkat derajatnya, padahal  dia sendiri merasa diri kecil/lemah, tetapi terhormat di mata manusia. Sebaliknya, orang yang sombong, maka Allah akan merendahkannya, padahal dirinya merasa besar, sedangkan orang-orang memandangnya(orang yang takabur) rendah, bahkan lebih rendah daripada hewan.”

Kenapa kita harus bertawadhu’?
Pertama, kalau kita sombong dengan harta dan jasa orang tua kita, seorang arif bijaksana menelanjangi diri kita, dengan ungkapan sebagai berikut:
 
إ
Jika anda bangga( kepadaku)  dengan kudamu, maka keindahan dan keggahan itu milik kudamu, bukan milik anda.
Jika anda berbangga dengan pakaian dan asesorismu, maka keindahan itu milik pakaian dan asesoris anda, bukan milik anda
Dan jika anda berbangga dengan jasa nenek moyangmu, maka jasa dan keutamaan itu milik mereka, bukan milik kita
Jika keutamaan dan keindahan itu bukan bagian dari dirimu, maka anda terlepas dari keindahan/kekegagahan itu

Maksudnya, boleh jadi orang menghargai dan menghormati kita, bukan lantaran hormat atas keindahan diri/kepribadian kita, melainkan karena benda-benda yang ada di sekeliling kita. Bahayanya, begitu benda-benda itu hilang dari kita, maka orang lain tidak lagi menghormati kita. Namun, bila orang hormat kepada kita karena keindahan pribadi kita, maka ada atau tidak ada benda-benda itu di sekeliling kita, maka orang akan tetapi menghormati kita. Kalau pun tidak ada orang yang menghormati kita, Allah pasti akan tetap memuliakan kita, karena keimanan dan akhlak kita. ”Inna akramakum ’ indallah at-qakum.” ”Hargailah orang lain (bersikap tawadhu’lah) kepada orang yang lebih rendah daripada kita, niscaya orang lain akan menghormati kita.

Kedua, kalau kita sombong dengan ilmu, maka di atas orang yang berilmu itu ada Dzat yang Maha Berilmu, yaitu Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Yusuf,10: 79 di bawah ini:


”dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”

Ketiga, kalau kita sombong dengan kekuasaan, maka kekuasaan itu ada ujung dan akhirnya, paling lambat kalau kita sudah mati. Allah melukiskan bagaimana penyesalan orang yang sombong dengan harta dan kekuasaannya, yang karena itu tidak mau sujud kepada Allah dan bersikap sombong kepada manusia.

 

(27).  Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu,(28).  Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.(29).  telah hilang kekuasaanku daripadaku."


Sebagai renungan bagi kita, agar kita tetap merendah dan merakyat, tanpa ada pengaruh harta/ilmu, dan kekuasaan yang membuat kita menjadi sombong kepada orang lain, maka mari kita simak hadis qudsi: 

 Rabbul Izzati berfirman dalam Hadis Qudsi:
Aku menyintai 3 perkara, tetapi cinta-Ku kepada 3 perkara lagi lebih kuat:
• Aku menyintai orang fakir yang rendah hati, tapi cinta-Ku lebih kuat kepada orang kaya yang rendah hati.(dia punya sarana untuk berlaku sombong, tetapi ia tetap rendah hati/tawadhu’)
• Aku menyintai orang kaya yang pemurah, tetapi kecintaan-Ku kepada orang miskin yang pemurah ,jauh lebih kuat.
• Aku menyintai orang tua yang taat (kepada-KU), tetapi kecintaan-Ku lebih kuat kepada pemuda yang taat.

Aku membenci 3 perkata, tetapi kebencian-Ku kepada 3 perkara lainnya lebih kuat lagi:
• Aku membenci orang kaya yang sombong, tetapui Aku lebih benci kepada orang miskin yang sombong.
• Aku membenci orang miskin yang bakhil, tetapi kebencian-Ku kepada orang kaya yang bakhil, jauh lebih kuat.
• Aku membenci pemuda yang berbuat maksiat, tetapi kebencian-Ku lebih kuat kepada orang tua yang berbuat maksiat.

Semoga Allah membimbing kita menjadi orang yang rendah hati, pemurah, dan taat kepada Allah, apa pun posisi kita di masyarakat.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Page 1 of 4
RocketTheme Joomla Templates